Jauh sebelum menara Burj Khalifa yang menjulang 828 meter mencakar langit Dubai, manusia sudah memiliki obsesi untuk membangun bangunan raksasa.  Pada tahun 2560 SM, bangsa Mesir kuno telah membangun piramida. Dua juta batu disusun oleh ribuan budak untuk membangun makam raja mereka, sebagai tempat keabadian dan keagungan. Bangunan yang menjulang tinggi tersebut seolah-oleh adalah tanda yang mengatakan pada dunia bahwa bangsa yang membangunnya adalah bangsa yang besar dan berpengetahuan tinggi. Karya mereka akan dikenang, bukan hanya oleh orang sezamannya, namun akan dicatat dalam sejarah selama ribuan tahun.

         Peradaban besar dunia memiliki keunggulan dan prestasi mereka sendiri, baik berupa arsitektur bangunan, teknologi atau  ribuan kilometer tanah taklukan.   Bentuk-bentuk fisik bangunan spektakuler tersebut adalah penanda atas kebesaran suatu bangsa. Namun, peradaban fisik tersebut tidak bisa tegak berdiri tanpa ruh yang menopang kehidupannya. Kesuksesan NASA mengirim manusia ke bulan dengan Apollo 11 dan penjelajahan titik-titik terjauh tata surya dengan The Horizons tidak akan berhasil tanpa kekuatan formula dan persamaan yang ditulis oleh para Ilmuwan.

            Kota Roma tidak dibangun dalam satu malam. Terutama malam yang dihabiskan dengan berceloteh hampa. Setiap bangsa dengan imperium yang besar dibangun dengan sains, perjuangan dan tangisan.